Notification

×

Di Depan Rumah Sakit Hingga Sei Beduk Seperti Mati Pelan-Pelan: Jerit Sunyi Pemuda Batam yang Tak Pernah Dijemput Negara

Minggu | Mei 03, 2026 WIB Last Updated 2026-05-03T07:00:48Z

Pemandangan memilukan. Seorang yang diduga gangguan jiwa /ODGJ tertidur pulas di depan Rumah Sakit Chamata Sahidya, Muka Kuning, Batam. (03/5/2026) 

PELITAKOTA.com|BATAM – Di balik deru mesin industri dan gemerlap gedung tinggi yang menjadi wajah kebanggaan Kota Batam, tersimpan sisi gelap yang menyesakkan dada. Ini bukan tentang kemiskinan biasa, melainkan tentang jiwa-jiwa muda yang terombang-ambing dalam kesunyian, telantar di jalanan tanpa pelukan negara.


​Pemandangan paling memilukan tertangkap di pelataran parkir Rumah Sakit Camatha Sahidya, Muka Kuning, Batam. Di sana, seorang pria yang secara fisik masih terlihat bugar dan muda, terpaksa menyerah pada keadaan. Tanpa sehelai alas, ia merebahkan tubuhnya di atas aspal yang membeku saat malam dan membara saat siang. Ia tidur berbantalkan lengan, beratapkan langit luas, tepat di depan sebuah institusi kesehatan, tempat yang seharusnya menjadi simbol kesembuhan dan pemuliaan martabat manusia. 


Dugaan gangguan jiwa (ODGJ) melekat padanya, namun tak ada yang tahu pasti, apakah ia korban kerasnya persaingan hidup di Batam, atau ada luka batin yang begitu hebat hingga menghancurkan kewarasannya?


​"Hati saya menangis melihatnya. Dia hanya beberapa langkah dari rumah sakit, tapi seolah tak terlihat oleh dunia. Aspal itu jadi saksi betapa dinginnya kota ini bagi mereka yang rapuh," ujar seorang warga Batam dengan mata berkaca- kaca saat menunggu pasien di Rumah Sakit Camatha Sahidya. (2/5/2026/), Malam. 


​Kisah pilu ini bukan kejadian tunggal. Ada juga dii Tanjung Piayu, Kecamatan Sei Beduk, seorang pemuda lain dengan kondisi serupa telah menjadi "pemandangan biasa" bagi warga setempat. 

Seorang laki laki berjalan kaki diduga mengalami gangguan jiwa di jalan S Parman, Tanjung Piayu,Sei Beduk Batam. (03/5/2026) 


Ia sering terlihat tersenyum sendiri, menyelipkan tangan di saku celana, lalu tiba-tiba berlari di tengah jalan raya seolah mencari trotoar yang layak untuk langkahnya yang bimbang.


​Bergeser ke wilayah Sagulung, tepatnya di seputaran Villa Muka Kuning, pemandangan tak kalah menyesakkan terlihat. Seorang pria muda kerap melintas di depan kedai kopi, mendorong sebuah troli bayi yang entah apa isinya. Tanpa arah, tanpa tujuan, ia berlari kecil membawa barang-barang temuannya. Ada juga yang menyusuri jalanan hanya untuk mengumpulkan bungkus rokok kosong yang diikat rapi dengan tali plastik, apakah hal itu dirasanya seperti membawa harta karun? Hanya dialah yang mengetahuinya.


​Fenomena menjamurnya ODGJ muda di sudut-sudut Batam, mulai dari yang tidur di parkiran hingga yang membawa kantong-kantong plastik di jalananan adalah sebuah "tamparan" bagi nurani kemanusiaan.


​Sesuai amanah konstitusi bahwa "Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara," publik kini menanti kehadiran nyata dari Pemerintah Kota Batam, Dinas Sosial, serta instansi terkait. 


Keberadaan mereka bukan sekadar "pemandangan tak sedap," melainkan manusia yang membutuhkan pertolongan medis dan perlindungan sosial.



​Evakuasi Manusiawi dan pemerintah diharapkan dapat menjemput mereka dari jalanan untuk ditempatkan di rumah singgah atau fasilitas kesehatan yang layak. Penanganan Medis Spesialis memberikan pengobatan jiwa agar mereka memiliki kesempatan untuk pulih.


​Batam boleh bangga dengan kemajuan ekonominya, namun kemajuan itu akan terasa hampa jika manusia-manusia di dalamnya dibiarkan "tidur bersama angin" dan membusuk di jalanan.


​Derajat sebuah kota tidak hanya diukur dari kemegahan infrastrukturnya, melainkan dari seberapa cepat tangan pemerintahnya merangkul mereka yang paling rapuh. Sebelum aspal parkiran itu semakin mendingin, semoga nurani para pemangku kebijakan terketuk untuk segera bertindak. Karena mereka yang kehilangan arah itu, tetaplah saudara kita.


​Redaksi