![]() |
| Korban kecelakaan tunggal ibu dan anak di Jalan S Parman, Sei Beduk, Batam. |
PELITAKOTA.com – BATAM, Pekerjaan pemotongan infrastruktur jalan untuk proyek penanaman pipa jaringan air bersih di sepanjang Jalan S. Parman, Kecamatan Sei Beduk, Kota Batam, mulai memakan korban jiwa dan memicu gelombang protes keras dari masyarakat.
Kurangnya pengawasan serta pengabaian standar keselamatan kerja oleh pihak pengembang proyek berujung pada terjadinya kecelakaan lalu lintas yang menimpa pengguna jalan pada hari ini, (17/72026).
Dua orang pengendara sepeda motor wanita yang diidentifikasi sebagai ibu dan anak mengalami kecelakaan tunggal di lajur tersebut. Menurut kesaksian sejumlah warga dan pengguna jalan yang berada di lokasi, kedua korban terjatuh setelah roda sepeda motor mereka kehilangan kendali akibat melintasi struktur aspal yang tidak rata serta hamparan kerikil tajam yang dibiarkan berserakan di badan jalan.
Akibat peristiwa tragis ini, ibu dan anak tersebut mengalami luka robek dan lebam di bagian tangan serta kaki mereka. Ironisnya, berdasarkan pantauan di lapangan, di sepanjang titik pemotongan jalan yang menganga tersebut sama sekali tidak ditemukan adanya rambu penanda proyek, barikade pengaman, maupun lampu peringatan (rotator) sebagai informasi bagi pengendara yang melintas, terutama di jam-jam rawan kerja.
Kondisi ini dinilai sangat membahayakan mengingat Jalan S. Parman merupakan salah satu urat nadi transportasi utama warga Sei Beduk menuju kawasan industri dan pemukiman padat.
Salah seorang pengguna jalan yang kerap melintasi jalur tersebut mengecam keras kelalaian pihak kontraktor pelaksana. Menurutnya, pembiaran jalan yang rusak setelah pemotongan tanpa adanya upaya pengembalian kondisi aspal seperti semula adalah bentuk kecerobohan fatal.
"Kami sebagai pengguna jalan merasa dijebak. Sudah jalannya dipotong melintang, pemulihannya asal-asalan, penuh kerikil tajam pula. Ditambah lagi tidak ada plang atau rambu sama sekali yang memperingatkan kalau di depan ada galian pipa. Kecelakaan hari ini seharusnya bisa dihindari kalau kontraktornya punya tanggung jawab profesional dan memikirkan nyawa orang lain," cetus salah satu warga dengan nada geram.
Kini, proyek penanaman pipa air tersebut menjadi sorotan warga setempat dari berbagai elemen masyarakat Sei Beduk. Dinilai lemahnya fungsi pengawasan instansi terkait dan Badan Pengusahaan (BP) Batam selaku pemberi mandat pengelolaan utilitas air.
Hal ini terkesan pihak kontraktor sengaja menunda penambalan aspal permanen dan hanya menimbun lubang galian menggunakan material kerikil curah seadanya. Material lepas ini sangat rentan terburai saat dilindas kendaraan berat, bertindak bak "peluru kerikil" yang membuat ban motor selip seketika.
Sampai berita ini di publis, pihak manajemen kontraktor pelaksana proyek jaringan pipa air maupun instansi pemerintah terkait di Kota Batam belum memberikan keterangan resmi perihal tanggung jawab moral terhadap korban luka maupun percepatan perbaikan jalan. Redaksi media ini akan terus berupaya mengonfirmasi pihak kepolisian setempat terkait penanganan kecelakaan dan pendataan korban guna keperluan advokasi hukum dan hak-hak publik lebih lanjut. (tpg)
