Notification

×

Wujud Iman dan Kemanusiaan, GMI Bersama Ediaman Sinaga Hijaukan Kawasan TPU Sei Tamiang

Jumat | Mei 08, 2026 WIB Last Updated 2026-05-08T10:08:53Z

Tokoh Masyarakat, Ediaman Sinaga (tengah) di kegiatan penanaman 500 pohon mahoni bersama Gereja Metodis Indonesia (GMI). (8/5/2026) 

PELITAKOTA.com|​BATAM – Kawasan TPU Covid Sei Tamiang, Kelurahan Tanjung Riau, memancarkan aura kesejukan yang berbeda pada Jumat pagi (8/5/2026). Di bawah inisiatif tokoh masyarakat Batam, Ediaman Sinaga, bersama Gereja Metodis Indonesia (GMI), sebuah langkah nyata pelestarian lingkungan dilakukan melalui penanaman 500 bibit pohon mahoni.


​Kegiatan yang dihadiri langsung oleh Bishop GMI ini bukan sekadar seremoni belaka. Aksi ini menjadi simbol penghormatan mendalam terhadap ruang memorial pandemi, sekaligus upaya mentransformasi kawasan tersebut menjadi paru-paru kota yang lebih asri dan teduh bagi masyarakat.


Ediaman Sinaga, yang dikenal vokal dalam isu-isu sosial, menyampaikan bahwa setiap batang mahoni yang ditanam membawa pesan tentang keberlanjutan hidup. Menurutnya, lokasi ini memiliki nilai historis yang kuat bagi warga Batam.


​"Ini bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi tentang menanam harapan. Kita ingin kawasan ini menjadi lebih asri, sekaligus menjadi pengingat bahwa kehidupan harus terus dijaga dan dilestarikan," ujar Ediaman dengan nada penuh optimisme.


​Wujud Iman melalui Kepedulian Alam

Kehadiran Bishop GMI memberikan bobot spiritual yang kuat dalam kegiatan ini. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa menjaga kelestarian alam adalah mandat yang harus diemban oleh setiap insan beriman.


​"Merawat alam adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual kita. Apa yang kita tanam hari ini, akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang," ungkap Bishop, mengapresiasi antusiasme jemaat dan relawan yang bahu-membahu menggali lubang dan menanam bibit.

​Mengubah Duka Menjadi Harapan

TPU Covid Sei Tamiang selama ini identik dengan memori perjuangan melawan pandemi. Melalui penghijauan ini, citra lokasi tersebut perlahan bergeser dari sekadar tempat peristirahatan terakhir yang penuh duka, menjadi simbol pemulihan dan kehidupan baru.


​Aksi gotong royong yang melibatkan tokoh masyarakat, lembaga keagamaan, dan relawan ini ditutup pada siang hari dengan suasana penuh kehangatan. Langkah kolaboratif ini diharapkan menjadi pemantik bagi elemen masyarakat lain di Batam untuk terus memperkuat nilai kemanusiaan melalui aksi nyata terhadap lingkungan hidup. (PS)