Notification

×

Kabut Asap Selimuti Sejumlah Wilayah Batam, Sumber Belum Dipastikan

Senin | September 28, 2026 WIB Last Updated 2026-09-28T07:58:35Z

Kabut tebal tampak menyelimuti kawasan jalan di Kota Batam, Senin (28/9/2026). Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang terlihat menurun dan pengguna jalan diminta meningkatkan kewaspadaan. Belum diketahui secara pasti apakah kondisi ini berkaitan dengan asap kebakaran lahan atau faktor cuaca.


PELITAKOTA.com | BATAM - Kabut atau asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Batam, Kepulauan Riau, Senin (28/9/2026). Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu jarak pandang serta aktivitas transportasi, khususnya penerbangan dan pelayaran.

Namun, hasil pemantauan di lapangan belum dapat menyimpulkan bahwa kabut atau asap tersebut berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Batam. Kabut asap itu diduga merupakan kiriman dari kebakaran hutan di wilayah lain.

Pemerintah daerah bersama instansi teknis perlu segera memastikan sumbernya melalui pemantauan titik panas, pengecekan kualitas udara, analisis arah angin, dan pemeriksaan lapangan.

Menjadi perhatian, Batam merupakan daerah dengan mobilitas penerbangan dan pelayaran yang tinggi. Jika kondisi atmosfer memburuk dan jarak pandang berada di bawah batas keselamatan yang ditetapkan otoritas penerbangan dan pelayaran, operasional transportasi akan terganggu.

Dampaknya juga berpotensi meluas ke sektor perdagangan, industri, pariwisata, distribusi barang dan jasa, hingga mobilitas warga. Selain itu, kualitas udara yang memburuk jika dalam waktu lama dapat membahayakan kesehatan masyarakat.

Atas hal ini, potensi karhutla tetap perlu diwaspadai, terutama ketika kondisi cuaca dan vegetasi memungkinkan api cepat menyebar.
Jika ditemukan titik panas atau lokasi kebakaran di Batam dan sekitarnya, pemadaman dan penyelidikan sumber api harus dilakukan segera.

Perlu diketahui, persoalan karhutla juga menjadi perhatian pemerintah pusat. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya meminta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan terus diperkuat, termasuk mengusut dugaan pembakaran yang disengaja untuk pembukaan lahan perkebunan.

Arahan itu disampaikan Presiden dalam rapat terbatas mengenai perkembangan penanganan bencana alam dari Istana Merdeka, Jakarta, melalui konferensi video, Senin (7/9/2026).

Presiden meminta dugaan pembakaran sengaja ditelusuri, termasuk kemungkinan keterlibatan masyarakat maupun korporasi.

"Jadi ini benar-benar kesengajaan, dan apakah ini rakyat atau ini korporasi? Tapi tolong diselidiki terus dan saya minta segera nama-nama korporasi itu sampai ke saya yang 8 maupun yang 18," ujar Prabowo.

Presiden juga meminta Kementerian Kehutanan, Kementerian ATR/BPN, dan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) menindaklanjuti temuan di lapangan.

"Kalau perlu kita segera cabut semuanya itu, semua izin-izinnya kita cabut, HGU-nya dan sebagainya. Ini sudah kelewatan dan juga saya ingin tahu benar-benar korporasi itu milik siapa," tegasnya.

Sementara dalam rapat yang sama, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto melaporkan adanya dugaan pembakaran yang disengaja di sejumlah wilayah. Menurutnya, ada kasus pembakaran yang dilakukan dengan imbalan uang, dan salah satunya telah ditangani aparat di Jambi.

"Memang ada upaya-upaya kesengajaan dengan cara membakar, kami menangkap itu di Jambi, ada pelaku pembakaran hutan dan memang disuruh dengan uang," kata Suharyanto.

Selain itu, menurut Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melaporkan, terdapat 200 laporan polisi terkait karhutla yang sedang diproses. Polisi telah mengamankan 138 tersangka, sementara delapan korporasi tengah diproses hukum. Adapun 18 perusahaan masih didalami, dan 42 perusahaan telah dikenai sanksi administratif berupa pembekuan atau pencabutan izin, dengan kemungkinan unsur pidana yang masih diselidiki.

Kabut asap di Batam menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan seluruh instansi terkait untuk memperkuat sistem deteksi dini karhutla. Pemantauan titik panas, patroli di kawasan rawan kebakaran, pemeriksaan kualitas udara, serta koordinasi antara BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, pemadam kebakaran, aparat keamanan, BMKG, dan pengelola transportasi menjadi kunci agar situasi tidak berkembang menjadi lebih besar.

Masyarakat juga perlu mendapat informasi terbuka mengenai kualitas udara dan jarak pandang, terutama jika kondisi mulai memengaruhi penerbangan dan pelayaran. Sebab, bila kabut asap kian tebal dan berlangsung berhari-hari, dampaknya bisa meluas dari persoalan lingkungan dan kesehatan menjadi persoalan sosial dan ekonomi.

Kini pertanyaan utamanya adalah apa penyebab kabut asap tersebut, dari mana sumbernya, dan apakah ada titik panas atau kebakaran lahan di Batam maupun daerah sekitar yang berkontribusi. Jawaban dari Pemerintah Kota Batam sangat dinantikan agar masyarakat tidak hanya mengetahui dampaknya, tetapi juga sumber masalah dan langkah penanganannya.

Redaksi