PELITAKOTA.com|BATAM — Di tengah gemerlap pembangunan dan hiruk-pikuk kendaraan yang tak pernah berhenti, ada luka sosial yang diam-diam tumbuh di sudut-sudut Kota Batam. Luka itu bernama keterlantaran.
Hampir setiap hari, masyarakat disuguhkan pemandangan memilukan tentang keberadaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang hidup tanpa perlindungan, tanpa perawatan, dan tanpa kepastian masa depan di jalanan kota. Mereka terlihat di bawah terik matahari, di antara debu dan bising kendaraan, seolah menjadi manusia-manusia yang tidak dihiraukan.
Fenomena ini bukan lagi sekadar pemandangan biasa. Ia telah berubah menjadi jeritan sunyi yang mengetuk nurani masyarakat, sekaligus memunculkan tanda tanya besar terhadap sejauh mana peran dan kepedulian Dinas Sosial Kota Batam dalam menjalankan tanggung jawab kemanusiaannya.
Berdasarkan pantauan dilapangan, keberadaan ODGJ telantar kini ada hampir disetiap kecamatan di Batam. Namun, satu potret yang paling menyayat hati terlihat kembali di kawasan Pasar Pancur, Tanjung Piayu, Kecamatan Sei Beduk.
Di pinggir jalan raya, tepat di depan deretan ruko yang ramai aktivitas, seorang pria lanjut usia duduk termangu sejak pagi hingga malam hari. Usianya diperkirakan telah melewati setengah abad. Tubuh renta yang mulai dimakan usia itu tampak begitu rapuh berhadapan dengan kerasnya aspal jalan dan dinginnya perhatian yang tak kunjung datang.
Tak jauh dari sana, warga juga kerap melihat seorang pria paruh baya berjalan bahkan berlari tanpa arah di tengah lalu lintas yang padat dan pada saat malam hari, ia akan tidur di salah satu halte. Pemandangan itu bukan hanya memancing iba, tetapi juga kekhawatiran besar dan sampai kapan mereka bertahan?
Memilukan, pria lansia tersebut terlihat begitu akrab dengan bungkusan-bungkusan plastik di hadapannya. Sesekali ia tersenyum kecil, senyum yang bukan ditujukan kepada orang-orang yang melintas, melainkan kepada plastik-plastik yang seolah menjadi satu-satunya “teman” di sisa hidupnya.
Pemandangan itu membuat hati siapa pun terasa teriris.Di saat banyak orang masih memiliki rumah untuk pulang, bertemu keluarga untuk berbagi cerita, dan tempat berteduh saat hujan datang, pria tua itu justru menghabiskan hari-harinya di tepi jalan, memeluk dunia kecilnya sendiri dalam sunyi.
Empati warga pun perlahan tumbuh dari hal-hal sederhana. Ada yang menyodorkan segelas kopi hangat, ada yang meletakkan sebungkus nasi di dekatnya. Bantuan kecil itu mungkin tak mampu mengubah hidupnya, tetapi setidaknya menjadi tanda bahwa masih ada hati yang belum mati rasa.
“Kasihan sekali. Usianya sudah tua, tapi dari pagi sampai malam duduk di situ terus. Kadang saya kasih makan atau kopi karena tidak tega melihat dia tersenyum sendiri melihat plastik-plastik itu. Di mana Dinas Sosial? Kenapa orang tua ini dibiarkan telantar?” ujar seorang warga yang kerap melintas di kawasan Pasar Pancur, Selasa (20/5/2026).
Kini masyarakat mulai mempertanyakan, apakah penanganan terhadap ODGJ di Batam benar-benar berjalan? Ataukah keberadaan mereka hanya dianggap bagian biasa dari keramaian kota yang perlahan dibiarkan?
Padahal negara telah mengatur secara tegas soal kewajiban melindungi warga yang telantar. Dalam UUD 1945 Pasal 34 ayat (1) disebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Sementara Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa menegaskan bahwa pemerintah pusat maupun daerah wajib memberikan pelayanan kesehatan jiwa, termasuk rehabilitasi dan penanganan bagi ODGJ telantar di jalanan.
Kehadiran pria lansia di Sei Beduk ini menjadi cermin pahit bahwa masih ada sisi kemanusiaan yang belum benar-benar disentuh. ODGJ bukan sampah kota yang pantas diabaikan. Mereka adalah manusia yang sedang kehilangan kesehatan, kehilangan arah hidup, dan mungkin juga kehilangan keluarga. Namun mereka tidak boleh kehilangan hak untuk diperlakukan secara manusiawi.
Warga Batam kini hanya berharap satu hal sederhana yaitu hadirnya tindakan nyata. Bukan sekadar razia sesaat yang berakhir tanpa solusi, melainkan langkah pemulihan yang benar-benar memanusiakan manusia. Sebab sungguh menyakitkan melihat seorang ayah seusia itu menghabiskan sisa hidupnya di tepi jalan, tersenyum lirih kepada bungkusan plastik.
Redaksi
