Notification

×

Jelang Hari Kemerdekaan ke-76, Menyambung Air Bersih di Batam Masih Dikeluhkan Warga

Senin | Agustus 16, 2021 WIB Last Updated 2021-08-17T01:54:42Z






Pelitakota.com|Batam, Air adalah Kebutuhan dasar manusia, material alam yang diyakini sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa. Mendapatkan air bersih merupakan hak asasi manusia yang mana telah menjadi pokok kesejahteraan untuk hidupnya. Tidak terbayangkan bagaimana manusia  hidup tanpa air, dipastikan tidak akan dapat lagi untuk melangsungkan kehidupannya.


Jika pemerintah menyerahkan  pengelolaan air bersih kepada orang atau perusahaan yang salah,  tentunya kedepan hanya akan  mengakibatkan kesengsaraan bagi rakyatnya. Air bersih mestinya bisa  dinikmati dengan harga yang murah bukan sebaliknya dikuasai oleh pelaku bisnis untuk kepentingan dalam meraup keuntungan pribadi dan kelompoknya.


Belum lama ini tersiar kepublik seorang warga Batam. Keluarga Ibu Rustia Sianturi yang berdomisili di Kecamatan sagulung kota Batam. Menyampaikan ke media ini, atas keluh kesahnya untuk mendapatkan air bersih dikota Batam sangat susah, terkesan warga yang kurang mampu seakan tidak dapat menikmati air bersih.


Pihaknya menjelaskan, sudah meng ajukan permohonan dari bulan februari lalu, untuk penyambungan jaringan baru air bersih kategori  golongan rumah tangga, tapi tidak terealisasi sampai  sekarang ini karena faktor ekonomi yang belum mampu.


Sebelumnya, adapun pengajuan yang di mohonkannya kepada pengelola air bersih di kota Batam, melalui mitra kerja PT Moya Indonesia, yakni  CV. Daya Anugrah Sejati, pengajuan yang di buatnya ditolak atau digagalkan karena tidak mampu membayar atas biaya yang dianggap terlalu besar sehingga kebutuhan air bersih warga tersebut belum terpenuhi


Penyebab tidak direalisasikannya, suami Ibu Rustia menyampaikan, karena tidak dapat menyanggupi Permintaan dari pihak ketiga atau Kontraktor sebagai  mitra PT Moya Indonesia. Pihak ketiga tersebut mewajibkan biaya sebesar 8,5 juta Rupiah untuk pemasangan jaringan air bersih untuk pelanggan baru.


" kami sudah memohon untuk penyambungan air dirumah kami kepada pihak kontraktor, tapi biaya yang diwajibkan tidak bisa kami penuhi karena belum mampu.


Sebelumnya, kami sudah transfer uang ke pihak kontraktor melalui rekening bank adik ipar kami, sebesar 5 juta rupiah ke pak Buha Hutasoit, tapi pada akhirnya uang itu sudah dikembalikan lagi kepada kami, tuturnya di kantor media grup  Komplek.Graha Sabina, Kecamatan Sagulung, Batam baru baru ini.


Suami ibu Rustia Sianturi menjelaskan lebih lanjut, " atas uang  sebelummya yang kami sediakan sebesar 5 Juta tersebut, kembali saya meminta bantuan kepada pak Buha, menghubunginya langsung melalui teleponnya supaya biaya yang diwajibkan bisa dikurangi, akan tetapi tidak berhasil, kami tetap diwajibkan harus bayar 8,5 juta untuk per satu meteran air.


Kata pak Buha Hutasoit kepadanya,

untuk biaya penyambungan air bersih sebenarnya dalam aturannya sebesar 11 juta, anggap saja 10 juta dari harga itu mereka sudah di bantu pak Buha sebesar 1,5 juta. 

katanya lagi menuturkan penjelasan Buha Hutasoit (kontraktor di wilayah tersebut). 


Atas hal itu media ini mencoba konfirmasi kepada pihak kontraktor di wilayah tersebut, yakni Buha Hutasoit, tetapi sangat disayangkan belum menjawab pesan konfirmasi  yang telah dikirimkan untuknya. Sampai saat ini berapa biaya standarisasi penyambungan air bersih kerumah warga  belum diketahui.


Selain kepihak kontraktor, media ini  juga telah mengirimkan pesan konfirmasi kepada pengelola SPAM Batam saat ini yakni kepada Ibu Vera, sebagaimana  diketahui adalah pihak PT Moya Indonesia, tetapi sama saja tidak ada balasannya.


Jelang HUT kemerdekaan RI ke-76 Ibu Rustia Sianturi bersama keluarganya, masih tetap berharap bisa menikmati air bersih dikota Batam, untuk biaya penyambungan air kerumahnya di harapnya bisa lebih murah.


" Harapan kami itu saja, air bersih bisa tersambung kerumah kami di hari ulang tahun kemerdekaan ini.  Untuk biaya meteran baru jangan di dibedakan- bedakan, membayar  8,5 juta itu sangat berat sekali, kami belum sanggup. Katanya.

Redaksi.