![]() |
| Salah satu Proyek yang sedang dalam tahap pengerjaan di Pulau Kasu. (17/6/2026) |
PELITAKOTA.com|Batam – Polemik terkait dugaan "proyek siluman" di Pulau Kasu yang sempat viral di media sosial mendapat tanggapan langsung dari masyarakat setempat. Untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar, tim pengurus Pro Jurnalismedia Siber (PJS) melakukan penelusuran langsung dan verifikasi lapangan pada Rabu (17/6/2026).
Hasil investigasi di lokasi menunjukkan sejumlah pembangunan yang menjadi sorotan publik ternyata dapat ditemukan secara fisik dan sebagian masih dalam proses pengerjaan.
Kedatangan tim jurnalis disambut terbuka oleh warga Pulau Kasu. Tidak ada penolakan maupun pembatasan akses terhadap media. Sebaliknya, masyarakat justru mengajak tim melihat langsung kondisi pembangunan yang selama ini menjadi perbincangan.
"Daripada hanya mendengar cerita dari satu pihak, lebih baik datang dan melihat sendiri kondisi yang sebenarnya," ujar seorang warga saat mendampingi peninjauan lapangan.
Penelusuran diawali dengan melihat pembangunan jalan lingkar desa yang menjadi salah satu objek yang dipersoalkan. Di lapangan terlihat sebagian ruas jalan telah selesai dibangun, sementara sebagian lainnya masih dalam tahap pengerjaan dan pematangan lahan.
Ketua RT 01 Pulau Kasu, Suhardi, menjelaskan bahwa jalan tersebut merupakan kebutuhan penting masyarakat karena menjadi akses yang lebih dekat bagi aktivitas warga, termasuk anak-anak sekolah.
"Jalan ini sangat dibutuhkan masyarakat. Ketika musim hujan, kondisi jalan yang masih berupa tanah merah menjadi licin dan sulit dilalui. Karena itu warga berharap pembangunan dapat dilanjutkan hingga tuntas," ujarnya.
Peninjauan kemudian dilanjutkan ke lokasi pembangunan batu miring yang sebelumnya disebut dalam narasi media sosial sebagai proyek yang tidak ditemukan keberadaannya. Namun hasil verifikasi menunjukkan kondisi berbeda. Bangunan batu miring tampak berdiri di sepanjang garis pesisir Pulau Kasu. Di sejumlah titik bahkan masih terlihat aktivitas pekerjaan lanjutan serta material yang tersedia untuk mendukung penyelesaian proyek.
Temuan tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan warga setempat, mengenai dasar munculnya tudingan bahwa proyek tersebut tidak ada. Ketua Forum RT/RW Pulau Kasu, Dani, mengaku kecewa karena menurutnya istilah "proyek siluman" telah menimbulkan kesan negatif terhadap pembangunan yang secara nyata dapat dilihat masyarakat.
"Kami tidak anti kritik. Kritik itu penting sebagai kontrol sosial. Tetapi kritik juga harus berdasarkan fakta dan pengecekan lapangan. Kalau proyeknya ada dan bisa dilihat langsung, tentu masyarakat mempertanyakan mengapa disebut tidak ada," katanya.
Menurut Dani, pembangunan batu miring memiliki manfaat penting untuk memperkuat kawasan pesisir sekaligus mendukung keberlanjutan pembangunan jalan lingkar desa yang telah lama menjadi harapan masyarakat.
Masjid dan Pondok Pesantren Aktif Dimanfaatkan Warga
Tim juga meninjau Masjid Nur Iman dan Pondok Pesantren Nurul Iman yang turut disebut dalam berbagai perbincangan publik.
Hasil pengamatan menunjukkan masjid tersebut berdiri kokoh dan digunakan masyarakat untuk beribadah. Sementara Pondok Pesantren Nurul Iman aktif menjadi pusat pendidikan keagamaan bagi anak-anak dan generasi muda Pulau Kasu.
Imam Masjid Nur Iman, Azhar, menyampaikan bahwa masyarakat merasa prihatin ketika muncul informasi yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi nyata yang mereka alami.
"Kami di sini berupaya membangun kampung secara bertahap. Karena itu kami berharap informasi yang disampaikan kepada publik benar-benar berdasarkan fakta yang ada di lapangan," ujarnya.
Pemerintah Kelurahan: Manfaatnya Dirasakan Masyarakat
Lurah Kasu, Budi, menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur di wilayahnya merupakan kebutuhan nyata masyarakat kepulauan yang selama ini menghadapi keterbatasan akses. Menurutnya, keberadaan batu miring berfungsi melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi, sedangkan jalan lingkar desa menjadi sarana penting untuk mendukung mobilitas warga.
"Manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Infrastruktur ini bukan hanya mendukung akses transportasi, tetapi juga pendidikan, kegiatan ekonomi, dan aktivitas sosial warga," katanya.Ia berharap seluruh pihak dapat melihat pembangunan secara objektif dan mengedepankan fakta sebelum menarik kesimpulan.
Terkait informasi yang beredar, Ketua DPD PJS Kepri, Gusmanedy, menegaskan bahwa kunjungan ke Pulau Kasu dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi jurnalistik melalui verifikasi langsung terhadap informasi yang berkembang di ruang publik.
"Kami tidak datang untuk membela siapa pun dan tidak pula untuk menghakimi pihak mana pun. Tugas jurnalis adalah memeriksa fakta, melakukan verifikasi, lalu menyampaikan hasilnya kepada publik secara berimbang," ujarnya.
Menurutnya, kritik terhadap kebijakan maupun pembangunan merupakan bagian dari demokrasi. Namun setiap informasi yang disampaikan kepada masyarakat harus melalui proses pengecekan yang memadai agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau membentuk opini yang tidak sesuai dengan fakta.Penelusuran di Pulau Kasu menjadi pengingat bahwa di era media sosial, informasi dapat menyebar sangat cepat.
"Karena itu, setiap tudingan atau dugaan perlu diuji melalui verifikasi lapangan, konfirmasi kepada pihak terkait, serta mendengarkan langsung masyarakat yang merasakan dampak pembangunan tersebut. Sebab dalam prinsip jurnalistik, fakta harus didahulukan daripada asumsi, dan kebenaran hanya dapat diperoleh melalui proses verifikasi yang menyeluruh, katanya mengakhiri. (*)
